Kalah di Negara Sendiri.

Jumat, 25 Juni 2010



Barusan (Jumat, 25 Juni 2010) aku baca artikel terbaru di Yahoo, Tempo, Kompas, Antara, salah satu di antara beritanya adalah tentang isu Pertamina yang karyawannya terancam di PHK. Wah, awalnya aku pikir Pertamina bangkrut atau apa? Rupanya alasannya adalah Pertamina gagal mendapatkan Public Service Obligation (PSO).

Apa tuh PSO? Pada dasarnya PSO merupakan bagian dari bentuk subsidi meskipun ada perbedaan baik pengertian maupun mekanisme penyaluran dan kepada siapa PSO diberikan. Berdasarkan pengertian dari Departemen Keuangan Negara, PSO adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh negara akibat disparitas/perbedaan harga pokok penjualan BUMN/swasta dengan harga atas produk/jasa tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah agar pelayanan produk/jasa tetap terjamin dan terjangkau oleh sebagian besar masyarakat (publik). Kalau subsidi adalah mengeluarkan biaya sesuai dengan kasus yang di atas anmun tujuannya adalah untuk membuat produk/jasa tetap terjamin oleh masyarakat kecil/miskin, meskipun jumlahnya tidak mayoritas.

Setelah menelaah pengertian PSO, mari kita selesaikan perbincangan mengenai Pertamina ini. Aku pribadi jadi geli sendiri melihat kegagalan Pertamina untuk mendapatkan dana program PSO. Terlebih kegagalan ini mengakibatkan ancaman PHK makin tampak di depan mata para karyawan, berdasarkan pemaparan Ketua Serikat Pekerja Sepuluh Nopember (SPSN) Pertamina Kriswatiningsih.

Program PSO di bidang subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Medan, Sumatera Utara, yang biasanya ditangani Pertamina, tahun ini jatuh ke tangan Petronas, perusahaan minyak asal Malaysia. Dalam tender terbuka, Pertamina gagal memenangi PSO subsidi BBM di wilayah Medan, ini pukulan telak bagi Pertamina. Sampai saat ini ada 34 perusahaan minyak yang ikut tender di Indonesia, termasuk Pertamina. Dari jumlah itu, 17 di antaranya, termasuk Pertamina sudah pasti memenangi tender tersebut. Namun sayangnya hanya ada satu sampai dua perusahaan yang berasal dari Indonesia, lainnya perusahaan asing.

Kegagalan jajaran direksi memperjuangkan Pertamina mendapatkan PSO dalam jumlah besar berdampak sangat kompleks bagi badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan dan distribusi minyak dan gas itu. Setidaknya dalam waktu dekat ini akan ada restrukturisasi organisasi. Restrukturisasi itu mengarah pada perampingan karyawan. Selain organik, karyawan `outsourcing` juga bakal menjadi korban PHK akibat perampingan itu. Sebentar lagi para karyawan Pertamina yang tergabung dalam beberapa serikat pekerja akan melakukan unjuk rasa di kantor pusat PT Pertamina, Jakarta. Kondisi semakin kacau.

Terlepas dari kriteria penilaian tender yang diadakan untuk mendapatkan dana PSO yang aku sendiri kurang paham, tapi betapa sangat menggelikan ketika Pertamina yang merupakan Badan Usaha Milik Negara kenapa bisa gagal dan tender itu justru dimenangkan oleh Petronas perusahaan minyak swasta dari Malaysia. Ironis banget ya? Dana PSO yang dianggarkan oleh pemerintah kita sendiri namun dana tersebut jatuh ke tangan asing yang berkompetisi di bidang kerja yang sama dengan Pertamina. Secara spesifik belum bisa dilihat kegagalan ini merupakan kesalahan dari pihak mana, tapi intinya ini menunjukkan kemampuan diplomasi dan lobbying yang dilakukan oleh pihak Pertamina dalam tender belum bisa menandingi keahlian pihak Petronas.

Fiuhhh...

Bisa, bisa, bisa karena terbiasa!!!

Kamis, 24 Juni 2010



Pepatah Arab pun sejak dulu telah berkata “man syabba ‘ala syaiin, syabba ‘alaihi” artinya; barang siapa yang membiasakan diri akan sesuatu maka dia akan terbiasa. Bulet banget yaa??? Tapi maksudnya itu Jika kita terbiasa akan sebuah aktivitas maka selanjutnya akan mudah bagi kita untuk melakukannya.

Yah, kalau kamu yang suka bangung kesiangan (termasuk aku) dan sering terlambat masuk kuliah. Itu sudah menjadi kebiasaan kamu dan akan sangat susah untuk dihilangkan. Mudah bagi kamu untuk melakukan kebiasaan itu, tapi kamu akan sangat susah untuk mengubahnya. Jadi segera saja diintrospeksi apa saja kebiasaan baikmu, bersyukurlah karena kamu akan sangat mudah melakukannya tanpa ada rasa keberatan sedikitpun karena kamu telah terbiasa berbuat kebaikan. Bersyukur juga kalau kebiasaan baik itu mendominasi dalam dirimu.

Tapi kamu harus waspada ketika ada beberapa perilaku burukmu yang sudah menjadi kebiasaan dan itu sangat berpengaruh dalam aktivitasmu sehari-hari. Yah seperti contoh di atas, karena kamu sudah terbiasa bangun kesiangan sangat susah bagi kamu untuk bangun tidur lebih awal, dampaknya sampai membuat kamu telat kuliah. Untuk beberapa dosen yang disiplin kamu pasti tidak diizinkan masuk kelas, bayangkan itu terjadi berulang-ulang. Bisa-bisa kamu gak lulus untuk kuliah tersebut.

Another example, uhm... (thinking) karena sudah terbiasa sehabis makan bersendawa dengan keras tanpa kamu sadari ketika makan di depan banyak orang (terlebih itu orang-orang terhormat) dengan santai kamu bersendawa dengan keras. Maklum karena sudah terbiasa, tapi apakah itu baik? Apalagi ketika kamu berada di lingkungan orang Jawa yang setahuku sendawa keras itu lebih tidak sopan dari pada kentut. Bisa terjadi? (ngutip kata-kata pak Juniardi, heheheh...2010x)

Yang harus ada di otak dan di hati adalah jangan sampai berpikir bahwa ini sudah takdir. Tapi memang membutuhkan sedikit tantangan untuk mengubah sebuah kebiasaan, susah banget! Aku sering melihat para debater sangat fasih dan lancar ketika berbicara bahasa Inggris di depan umum (karena sudah terbiasa). Suatu ketika bahasa Inggris diganti dengan bahasa Indonesia, jadi mereka harus menyampaikan argumentasinya dalam bahasa Indonesia. Sangat tidak terduga, bicara mereka tersendat-sendat seperti tidak menguasai tata bahasa Indonesia saja padahal mereka orang Indonesia asli semuanya loh! Intinya karena mereka tidak terbiasa berbahasa Indonesia ketika debat.

Ada riset yang dilakukan terhadap baby sitter yang merawat seorang bayi, sejak lahir si bayi selalu digendong oleh si baby sitter. Tanpa disadari si bayi sudah mulai tumbuh besar menjadi seorang anak, namun hingga anak berumur tujuh tahun si baby sitter tetap kuat menggendongnya padahal si baby sitter pun sudah semakin tua. Dan itu terus berlanjut hingga si anak berumur sepuluh tahun. Sekali lagi baby sitter tua yang enteng menggendong si anak yang semakin besar dikarenakan sebuah kebiasaan.

Betapa pentingnya kita harus membentuk sebuah kebiasaan karena dari situ akan memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan kita. Kalau sudah terbiasa melakukan hal-hal yang buruk maka akan susah untuk berbuat kebaikan begitupun sebaliknya. Kebiasaan-kebiasaan baik akan mengantarkan kita kepada kehidupan yang lebih baik pula. Ayo bangun kebiasaan baik mulai dari sekarang!

I raise my case! (debater mode off :P)