
Aku pernah melihat sebuah film (aku lupa judulnya, maaf), menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang memiliki kepribadian ganda. Di mana kepribadian baiknya lebih dominan maka lelaki ini akan bersikap sangat santun, jujur, penolong, membela yang lemah, dan segala sikap baik lainnya. Akan tetapi ketika kepribadian jahatnya mendominasi maka dia akan berubah menjadi sosok yang sangat dingin, tidak berperasaan, membunuh, merampok, menganiaya orang, dll.
Wah, nama tokohnya juga aku lupa, uhm… jadi kita sebut saja namanya Matt biar lebih gampang. Jadi Matt sadar kalau dia mengidap kelainan ini, dan dia sangat tidak menyukainya. Anehnya ketika dia menjadi baik Matt sama sekali tidak mengingat perbuatan jahatnya sama sekali, begitupun sebaliknya. Tiba-tiba saja dia melihat ada orang mati terbunuh di hadapannya tanpa sadar dia lah yang melakukannya. Sampai-sampai pihak kepolisian mengalami kesulitan untuk menginterogasinya, karena ketika diinterogasi Matt sedang menjadi pribadi yang baik. Aneh ya? Heheh
Gak perlu bicara tentang endingnya, di atas cuma sebuah contoh yang sangat ekstrim. Setelah itu aku berpikir kayaknya asyik juga punya kelainan seperti itu. Saat itu aku masih SMP, secara aku gak sadari aku bersikap yang sangat berbeda antara di sekolah, rumah, tempat kursus. Di sekolah aku sangatlah rajin, friendly, ramah, ceria, bahkan guru-guru salut terhadap sikapku di kelas yang sering membuat mereka senang ketika mengajar. Tapi ketika tiba di rumah, aku menjadi sangat malas. Ketika disuruh belajar meskipun hanya sekedar membaca buku sangatlah berat, bahkan ayahku mengancam akan memutuskan sekolahku kalau tidak belajar. Di tempat kursus, aku dibilang anak yang pendiam, sombong, gak mau berteman dengan anak-anak lain dan aku cuek saja.
Sikapku ini baru aku sadari ketika sebulan menjelang UNAS. Lingkungan menjadi sangat tidak bersahabat semuanya, entah di sekolah, rumah, atau tempat kursus. Keadaan begitu sangat menekanku, dan sikapku yang sering muncul di tempat kursus menjadi dominan di sekolah dan di rumah juga. Karena aku tipe orang yang suka mengkhayal dan suka menghiperbolakan suatu keadaan, akhirnya aku berpikir apakah yang aku alami ini seperti yang dialami Matt? Lebay kan?
Aku merasa sangat gak nyaman dengan keadaan ini, dan aku semakin mengkait-kait kan keadaanku dengan kondisi Matt yang ada di film itu. Benar-benar penuh khayalan. Jujur, aku sering bertanya-tanya tentang keadaanku yang aneh ini (dalam konteks yang hiperbola) sampai akhirnya aku menemukan jawabannya baru-baru ini. Saat itu aku menonton sebuah infotainment yang meliput pembuatan video klip sherina yang berjudul ‘Geregetan’. Sherina bener-bener tampil dengan karakter yang berbeda dari albumnya yang sebelumnya, di cover albumnya saja terlihat dua sosok sherina yang masing-masing menonjolkan gaya dan pribadi yang berbeda. Ini yang menjadi bahan wawancara infotainment itu kepada sherina. Apa alasannya tampil beda di albumnya yang terbaru? Sherina menjawab bahwa konsep itu terinspirasi karena dia merasa dirinya memiliki kepribadian ganda sehingga konsep cover albumnya pun seperti itu. Tapi dia menegaskan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kepribadian ganda, hanya saja kepribadian tertentu akan muncul pada kondisi yang tertentu pula.
Iya juga ya? Aduh bodohnya aku, kenapa aku gak berpikir lebih realistis? Maklum proses menuju pendewasaan, saat itu aku bener-bener gak dewasa. Mindset berpikir masih kayak anak kecil, malu-maluin! Dari kata-kata sherina itu akhirnya pikiranku menjadi terbuka. Kenapa Avril Lavigne di albumnya The Best Damn Thing menampilkan karakter yang berbeda dari album-album sebelumnya, simpel karena dia ingin menonjolkan sisi pribadinya yang berbeda.
Kesimpulanku selanjutnya; setiap orang tidak hanya memiliki kepribadian ganda, tapi lebih dari itu. Multipersonality. Kata pak Novin sisi lain dari kepribadian kita akan muncul ketika kita sedang menjelajahi dunia maya, lebih cepat akrab dengan orang. Padahal belum tentu kalau ketemu langsung bisa seakrab itu. Temanku yang maniak seks juga ngomong kalau dia mau ML sama pacarnya akan terasa lebih nyaman kalau lampu kamar dimatikan, seolah-olah sisi kepribadiannya yang liar, buas dan agresif menjadi dominan dalam kegelapan.
Intinya adalah; sikap multipersonality dimiliki oleh setiap orang, hanya perbedaan-perbedaan itu akan tampak jelas terlihat ketika kita dihadapakn pada situasi dan kondisi yang berbeda pula.
I raise my case! (debater mode off, :P)

