Multipersonality

Jumat, 26 Maret 2010


Aku pernah melihat sebuah film (aku lupa judulnya, maaf), menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang memiliki kepribadian ganda. Di mana kepribadian baiknya lebih dominan maka lelaki ini akan bersikap sangat santun, jujur, penolong, membela yang lemah, dan segala sikap baik lainnya. Akan tetapi ketika kepribadian jahatnya mendominasi maka dia akan berubah menjadi sosok yang sangat dingin, tidak berperasaan, membunuh, merampok, menganiaya orang, dll.

Wah, nama tokohnya juga aku lupa, uhm… jadi kita sebut saja namanya Matt biar lebih gampang. Jadi Matt sadar kalau dia mengidap kelainan ini, dan dia sangat tidak menyukainya. Anehnya ketika dia menjadi baik Matt sama sekali tidak mengingat perbuatan jahatnya sama sekali, begitupun sebaliknya. Tiba-tiba saja dia melihat ada orang mati terbunuh di hadapannya tanpa sadar dia lah yang melakukannya. Sampai-sampai pihak kepolisian mengalami kesulitan untuk menginterogasinya, karena ketika diinterogasi Matt sedang menjadi pribadi yang baik. Aneh ya? Heheh

Gak perlu bicara tentang endingnya, di atas cuma sebuah contoh yang sangat ekstrim. Setelah itu aku berpikir kayaknya asyik juga punya kelainan seperti itu. Saat itu aku masih SMP, secara aku gak sadari aku bersikap yang sangat berbeda antara di sekolah, rumah, tempat kursus. Di sekolah aku sangatlah rajin, friendly, ramah, ceria, bahkan guru-guru salut terhadap sikapku di kelas yang sering membuat mereka senang ketika mengajar. Tapi ketika tiba di rumah, aku menjadi sangat malas. Ketika disuruh belajar meskipun hanya sekedar membaca buku sangatlah berat, bahkan ayahku mengancam akan memutuskan sekolahku kalau tidak belajar. Di tempat kursus, aku dibilang anak yang pendiam, sombong, gak mau berteman dengan anak-anak lain dan aku cuek saja.

Sikapku ini baru aku sadari ketika sebulan menjelang UNAS. Lingkungan menjadi sangat tidak bersahabat semuanya, entah di sekolah, rumah, atau tempat kursus. Keadaan begitu sangat menekanku, dan sikapku yang sering muncul di tempat kursus menjadi dominan di sekolah dan di rumah juga. Karena aku tipe orang yang suka mengkhayal dan suka menghiperbolakan suatu keadaan, akhirnya aku berpikir apakah yang aku alami ini seperti yang dialami Matt? Lebay kan?

Aku merasa sangat gak nyaman dengan keadaan ini, dan aku semakin mengkait-kait kan keadaanku dengan kondisi Matt yang ada di film itu. Benar-benar penuh khayalan. Jujur, aku sering bertanya-tanya tentang keadaanku yang aneh ini (dalam konteks yang hiperbola) sampai akhirnya aku menemukan jawabannya baru-baru ini. Saat itu aku menonton sebuah infotainment yang meliput pembuatan video klip sherina yang berjudul ‘Geregetan’. Sherina bener-bener tampil dengan karakter yang berbeda dari albumnya yang sebelumnya, di cover albumnya saja terlihat dua sosok sherina yang masing-masing menonjolkan gaya dan pribadi yang berbeda. Ini yang menjadi bahan wawancara infotainment itu kepada sherina. Apa alasannya tampil beda di albumnya yang terbaru? Sherina menjawab bahwa konsep itu terinspirasi karena dia merasa dirinya memiliki kepribadian ganda sehingga konsep cover albumnya pun seperti itu. Tapi dia menegaskan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kepribadian ganda, hanya saja kepribadian tertentu akan muncul pada kondisi yang tertentu pula.

Iya juga ya? Aduh bodohnya aku, kenapa aku gak berpikir lebih realistis? Maklum proses menuju pendewasaan, saat itu aku bener-bener gak dewasa. Mindset berpikir masih kayak anak kecil, malu-maluin! Dari kata-kata sherina itu akhirnya pikiranku menjadi terbuka. Kenapa Avril Lavigne di albumnya The Best Damn Thing menampilkan karakter yang berbeda dari album-album sebelumnya, simpel karena dia ingin menonjolkan sisi pribadinya yang berbeda.

Kesimpulanku selanjutnya; setiap orang tidak hanya memiliki kepribadian ganda, tapi lebih dari itu. Multipersonality. Kata pak Novin sisi lain dari kepribadian kita akan muncul ketika kita sedang menjelajahi dunia maya, lebih cepat akrab dengan orang. Padahal belum tentu kalau ketemu langsung bisa seakrab itu. Temanku yang maniak seks juga ngomong kalau dia mau ML sama pacarnya akan terasa lebih nyaman kalau lampu kamar dimatikan, seolah-olah sisi kepribadiannya yang liar, buas dan agresif menjadi dominan dalam kegelapan.

Intinya adalah; sikap multipersonality dimiliki oleh setiap orang, hanya perbedaan-perbedaan itu akan tampak jelas terlihat ketika kita dihadapakn pada situasi dan kondisi yang berbeda pula.

I raise my case! (debater mode off, :P)

Indonesian movie formula; zaman sekarang = zaman dulu.

Rabu, 10 Maret 2010


Aku semakin cinta dengan bangsa ini, ketika beberapa tahun lalu sempat timbul wacana di media massa dan kalangan publik tentang bangkitnya perfilman Indonesia setelah sekian lama mati suri. Bermula dari suksesnya film Ada Apa dengan Cinta? kemudian sutradara-sutradara film lainnya pun mulai berani show up untuk menghasilkan karya-karya mereka dalam dunia perfilman.Untuk genre horor saat itu muncul film Jelangkung. Untuk kategori drama cinta remaja juga bermunculan film-film serupa seperti Eifel I'm in Love, My Heart, dll.

Saat itu pula aku berkhayal bahwa suatu saat nanti industri film Indonesia bisa menyamai level industri film hollywood yang dari segi teknologi bisa menggabungkan gambar manusia dan animasi dan terlihat sangat nyata seperti pada film Avatar, Harry Potter, Lord of the ring, dll. Atau dari ide-ide ceritanya yang benar-benar bisa menginspirasi penonton seperti kisah the Great Debater, Step Up, dll. Ada juga kisah drama romantis namun tetap masih ada nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya seperti the Confession of Shophaholic, Twilight, New York Minute, dll. Dan masih banyak lagi kehebatan film-film Hollywood yang patut aku acungi dua jempol sekaligus. Dan semua indikator itu aku prediksikan akan terjadi di Indonesia suatu saat nanti, melihat peluangnya sangatlah terasa. Saat itu benar-benar terlihat jelas bagaimana perfilman Indonesia mencoba untuk bangkit.

Tapi anehnya adalah kenapa hingga saat ini aku masih cenderung lebih menyukai film-film produksi USA itu ketimbang produk negara sendiri. Yah meskipun ada beberapa film lokal yang aku sukai tapi persentase jauh lebih sedikit dari pada film produk Amerika. Aku senduiri heran dan banyak sekali bertanya-tanya; kenapa aku masih cenderung menyukai film - film Hollywood ketimbang film - film Indonesia? Hmm... pertama kali aku mencoba menjawab pertanyaanku ini aku kerap kali menyalahkan negara adidaya Amerika yang sangat kapitalis di berbagai sektor termasuk industri perfilman. Dengan sistem kapitalis yang begitu kuat mereka bisa menembus batas - batas kebudayaan dan nilai - nilai normatif di suatu negara, dan salah satu korbannya adalah Indonesia. Betapa innocence nya Indonesia, seolah bayi kecil yang masih imut dan lugu sehingga mudah diberikan pengaruh apapun.

Selanjutnya aku menerapkan anjuran teman - teman dekatku yang selalu memberi wejangan; "nal, kalau mau melakukan sesuatu lebih baik dipikir dua kali". Yap! Sehingga kesimpulanku yang pertama tadi masih aku pertimbangkan lagi, dan aku mencoba berpikir untuk kedua kalinya. Akhirnya aku menemukan jawaban yang tepat, kenapa aku cenderung suka film - film Hollywood? Karena aku melihat pelaku industri film Indonesia tidak bisa memanfaatkan peluang besar itu dengan maksimal. Setelah semangat untuk berkarya itu muncul ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas ide, konsep cerita yang sesuai. Aku bisa menyimpulkan perfilman Indonesia malah mengalami penurunan kualitas.

Bisa diakui dari segi kualitas gambar, soundtrack, dan tampilan fisik lainnya ada sedikit kemajuan. Tapi bagaimana dengan kualitas film Indonesia sendiri? Yah, sama saja dengan film - film Indonesia saat zaman jadul. Oke, coba deh kamu pikir apa bedanya film Suster Keramas, Tali pocong Perawan dengan film horornya suzana beranak dalam kubur dan sejenisnya? Bedanya cuma gambarnya saja yang lebih modern, latar musiknya lebih keren, tapi ide ceritanya yaa sama saja. Mana progresnya?

Ketiga poin yang aku sebutkan di atas tentang indikator tersebut; Teknologi animasi (mungkin yang satu ini bisa dimaklumi kalau Indonesia belum mampu melakukannya), inspiratif, dan memiliki makna yang dalam pada jalan ceritanya. Indikator-indikator ini sangat sedikit aku temui di perfilman Indonesia, even nothing! Makanya aku memberikan rumus untuk perfilman Indonesia zaman sekarang = zaman dulu, secara simpel biar semua bisa paham bahwa progress yang diberikan hanya meningkat sedikit tapi mendadak turun lagi.

Cita-citaku (meskipun aku tidak berbakat menjadi sutradara), setidaknya aku bisa menyumbangkan ide cerita yang inspiratif dan memiliki nilai kemanusiaan di dalamnya agar tujuan orang menonton film tidak hanya sekedar hiburan, tapi ada bonus yang mereka dapatkan.

That's All!!!