Indonesian movie formula; zaman sekarang = zaman dulu.

Rabu, 10 Maret 2010


Aku semakin cinta dengan bangsa ini, ketika beberapa tahun lalu sempat timbul wacana di media massa dan kalangan publik tentang bangkitnya perfilman Indonesia setelah sekian lama mati suri. Bermula dari suksesnya film Ada Apa dengan Cinta? kemudian sutradara-sutradara film lainnya pun mulai berani show up untuk menghasilkan karya-karya mereka dalam dunia perfilman.Untuk genre horor saat itu muncul film Jelangkung. Untuk kategori drama cinta remaja juga bermunculan film-film serupa seperti Eifel I'm in Love, My Heart, dll.

Saat itu pula aku berkhayal bahwa suatu saat nanti industri film Indonesia bisa menyamai level industri film hollywood yang dari segi teknologi bisa menggabungkan gambar manusia dan animasi dan terlihat sangat nyata seperti pada film Avatar, Harry Potter, Lord of the ring, dll. Atau dari ide-ide ceritanya yang benar-benar bisa menginspirasi penonton seperti kisah the Great Debater, Step Up, dll. Ada juga kisah drama romantis namun tetap masih ada nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya seperti the Confession of Shophaholic, Twilight, New York Minute, dll. Dan masih banyak lagi kehebatan film-film Hollywood yang patut aku acungi dua jempol sekaligus. Dan semua indikator itu aku prediksikan akan terjadi di Indonesia suatu saat nanti, melihat peluangnya sangatlah terasa. Saat itu benar-benar terlihat jelas bagaimana perfilman Indonesia mencoba untuk bangkit.

Tapi anehnya adalah kenapa hingga saat ini aku masih cenderung lebih menyukai film-film produksi USA itu ketimbang produk negara sendiri. Yah meskipun ada beberapa film lokal yang aku sukai tapi persentase jauh lebih sedikit dari pada film produk Amerika. Aku senduiri heran dan banyak sekali bertanya-tanya; kenapa aku masih cenderung menyukai film - film Hollywood ketimbang film - film Indonesia? Hmm... pertama kali aku mencoba menjawab pertanyaanku ini aku kerap kali menyalahkan negara adidaya Amerika yang sangat kapitalis di berbagai sektor termasuk industri perfilman. Dengan sistem kapitalis yang begitu kuat mereka bisa menembus batas - batas kebudayaan dan nilai - nilai normatif di suatu negara, dan salah satu korbannya adalah Indonesia. Betapa innocence nya Indonesia, seolah bayi kecil yang masih imut dan lugu sehingga mudah diberikan pengaruh apapun.

Selanjutnya aku menerapkan anjuran teman - teman dekatku yang selalu memberi wejangan; "nal, kalau mau melakukan sesuatu lebih baik dipikir dua kali". Yap! Sehingga kesimpulanku yang pertama tadi masih aku pertimbangkan lagi, dan aku mencoba berpikir untuk kedua kalinya. Akhirnya aku menemukan jawaban yang tepat, kenapa aku cenderung suka film - film Hollywood? Karena aku melihat pelaku industri film Indonesia tidak bisa memanfaatkan peluang besar itu dengan maksimal. Setelah semangat untuk berkarya itu muncul ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas ide, konsep cerita yang sesuai. Aku bisa menyimpulkan perfilman Indonesia malah mengalami penurunan kualitas.

Bisa diakui dari segi kualitas gambar, soundtrack, dan tampilan fisik lainnya ada sedikit kemajuan. Tapi bagaimana dengan kualitas film Indonesia sendiri? Yah, sama saja dengan film - film Indonesia saat zaman jadul. Oke, coba deh kamu pikir apa bedanya film Suster Keramas, Tali pocong Perawan dengan film horornya suzana beranak dalam kubur dan sejenisnya? Bedanya cuma gambarnya saja yang lebih modern, latar musiknya lebih keren, tapi ide ceritanya yaa sama saja. Mana progresnya?

Ketiga poin yang aku sebutkan di atas tentang indikator tersebut; Teknologi animasi (mungkin yang satu ini bisa dimaklumi kalau Indonesia belum mampu melakukannya), inspiratif, dan memiliki makna yang dalam pada jalan ceritanya. Indikator-indikator ini sangat sedikit aku temui di perfilman Indonesia, even nothing! Makanya aku memberikan rumus untuk perfilman Indonesia zaman sekarang = zaman dulu, secara simpel biar semua bisa paham bahwa progress yang diberikan hanya meningkat sedikit tapi mendadak turun lagi.

Cita-citaku (meskipun aku tidak berbakat menjadi sutradara), setidaknya aku bisa menyumbangkan ide cerita yang inspiratif dan memiliki nilai kemanusiaan di dalamnya agar tujuan orang menonton film tidak hanya sekedar hiburan, tapi ada bonus yang mereka dapatkan.

That's All!!!

0 komentar:

Posting Komentar