
Jika kita melihat kegiatan masyarakat Gorontalo di bulan Ramadhan sepintas tidak ada yang membedakan dengan masyarakat yang bermukim di daerah lain. Namun perbedaan itu akan terlihat pada tiga hari terakhir di bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri tepatnya di malam Lailatul Qadar. Terlihat di setiap pemukiman warga terpasang lampu minyak yang menghiasi setiap halaman rumahnya, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak yang bisa dijumpai di setiap halaman rumah. Namun dapat dibayangkan jika hampir seluruh rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan, masjid, dan setiap sudut tempat di Gorontalo dihiasi lampu minyak. Benar-benar sangat menakjubkan.
Tradisi ini tidak begitu saja dilakukan oleh warga Gorontalo , namun ada makna di balik semua itu. Tumbilotohe merupakan sebuah festival yang diadakan oleh seluruh rakyat Gorontalo pada tiga hari terakhir Ramadhan menjelang lebaran. Kata ‘tumbilotohe’ sendiri berasal dari bahasa Gorontalo yang terdiri atas dua kata; ‘tumbilo’ yang berarti pasang dan ‘tohe’ yang berarti lampu. Karena media yang digunakan adalah lampu minyak maka festival ini biasa diadakan pada malam hari. Maka secara harfiah Tumbilotohe merupakan festival malam pasang lampu.
Sejarahnya kenapa Tumbilotohe diadakan pada hari terakhir pada bulan Ramadhan tepatnya pada malam Lailatul Qadar , jauh sebelum Indonesia merdeka di wilayah Gorontalo belum ada listrik sama sekali. Sehingga pada malam hari benar-benar sangat gelap gulita, tentunya ini sangat menghambat kegiatan warga pada malam hari terlebih pada malam di bulan Ramadhan. Di mana warga harus melakukan beberapa ibadah penting di malam hari seperti berbuka puasa, sholat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan sahur dengan penerangan melalui lampu minyak.
Ketika memasuki malam Lailatul Qadar yaitu malam di mana malaikat turun ke bumi untuk mendoakan orang-orang yang rajin beribadah di malam harinya sehingga pada malam-malam Lailtaul Qadar banyak warga lebih meningkatkan ibadahnya. Karena kondisi wilayah Gorontalo sangat gelap maka para warga berinisiatif untuk memberikan penerangan dengan lampu minyak yang lebih banyak dari biasanya untuk menghiasi rumahnya dengan tujuan untuk menyambut malam Lailatul Qadar sekaligus memberikan perbedaan terhadap malam Lailatul Qadar itu sendiri dengan malam-malam di bulan Ramadhan lainnya.
Beberapa orang tua sempat meyakini mitos bahwa saat itu malaikat sedang berkeliling untuk singgah ke rumah-rumah orang yang rajin beribadah di malam hari, salah satu tujuan malam Tumbilotohe juga adalah untuk menarik perhatian malaikat agar singgah ke rumah mereka karena kondisi rumah yang terang benderang.
Terlepas dari mitos tersebut, terdapat pesan moral yang bisa kita ambil dari ritual Tumbilotohe ini. Dengan memasang lampu minyak di halaman rumah akan mengingatkan kita tentang betapa berharganya malam Lailatul Qadar dan kita tidak bisa melewatinya begitu saja, kita dihimbau untuk lebih meningkatkan frekuensi ibadah kita kepada Allah Swt.
Seiring dengan perkembangan zaman hingga listrik sudah mulai digunakan oleh warga, namun tradisi Tumbilotohe ini tetap dipertahankan oleh masyarakat Gorontalo. Bahkan kini tradisi ini dipatenkan menjadi sebuah festival. Beberapa warga pun melakukan modifikasi, karena harga minyak tanah semakin mahal mereka mensiasatinya dengan menggunakan minyak kelapa. Ada juga yang menggunakan lampu pijar yang sumber penerangannya menggunakan energi listrik. Malam pasang lampu pun terlihat semakin variatif.
Segala perubahan yang terjadi pada cara masyarakat Gorontalo saat ini untuk merayakan malam festival Tumbilotohe, membuat pesan moral yang terdapat dalam tradisi ini semakin terlupakan. Yang semestinya semakin mendekati penghujung Ramadhan umat muslim dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadahnya namun yang terjadi pada sebagian besar warga Gorontalo, mereka semakin sedikit untuk sholat Taraweh di masjid dan lebih memilih untuk berjalan-jalan mengitari kota menikmati indahnya lampu minyak.

0 komentar:
Posting Komentar