
Well done, rencana mau membuat review setiap mata kuliah. Udah ada di otak sejak pertengahan Ramadhan kemaren, tapi baru terlaksana sekarang. Haduu emang suka tunda pekerjaan, semoga belum ada kata terlambat. Mumpung perkuliahan juga belum sampe pertengahan semester.
Kebetulan besok ada kuliah Penulisan Media Public Relation (PR), bapaknya nuntut kita bicara bahasa Inggris di kelas. Ok I'll do it!
Then, secara garis besar bapaknya sudah memberikan keyword mengenai media yang sering digunakan buat penulisan PR. Yah katanya sih PR bakalan sering berkutat dengan News Release, hmmm... dari cara penjelasannya aku percaya dia adalah the second Mr. Boy (yang ngerti pasti ketawa)
Tapi kenapa harus News Release aja yang sering digunakan seorang PR untuk penulisannya? Oke berdasarkan referensi yang aku dapatkan dari Prayudi dalam bukunya Penulisan Naskah Public Relations dan juga buku Managing Public Relations yang ditulis Grunig, James E dan Todd Hunt. Bahwa secara keseluruhan penulisan naskah seorang PR entah dalam News Release atau media yang lain pun sangat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pencitraan sebuah perusahaan yang dinaunginya.
Kemampuan menulis (selain News Release ya?) ini sangat dibutuhkan dalam pembuatan naskah pidato, memberikan testimoni, bahkan menyampaikan pesan lewat memo pun jika bahasanya tidak ditata dengan baik maka akan memberikan dampak buruk bagi pencitraan sebuah perusahaan atau organisasi.
Gak banget ya? Kalo seorang PR udah pandai beretorika depan publik, bicara bagus, bikin enlightning pendengarnya, tapi semuanya berubah drastis ketika kata-kata indah bermutiara itu diterjemahkan ke bahasa tulis.
Jadi harus gimana? PR harus memahami dulu faktor yang mempengaruhi pemahaman publik atas informasi yang dibaca, kemudian komunikasikan ide atau penjelasan kepada publik melalui tulisan yang jelas, enak dibaca dan mudah dipahami.
Pada prinsipnya ada beberapa hal krusial dalam penulisan naskah PR yang perlu dipertimbangkan. Bapak Prayudi membaginya dalam 5 hal, supaya tercipta pemahaman yang baik dibenak publik terhadap sebuah organisasi atau perusahaan.
1. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan naskah PR sama dengan tujuan public relations. Grunig dan Hunt mengidentifikasi 5 tujan aktivitas PR, yakni : komunikasi, menerima pesan, penerimaan kognisi, pembentukan atau perubahan sikap (penilaian atau keinginan perilaku) dan perilaku terbuka.
Kejujuran, fakta dan informasi yang disampaikan harus bisa memenuhi harapan dari berbagai publik organisasi, dan disaat yang bersamaan bisa menciptakan pengertian bersama antara organisasi dengan publik. Praktisi PR harus menjaga reputasi perusahaan di satu sisi dan memahami keinginan publik di sisi lain.
2. Objektivitas
Penulisan naskah harus mengacu kepada manfaatnya, serta terpisah dari identitas penulis. Agar informasi anonimus itu diterima publik, kata dan kalimat yang termuat harus memiliki integritas dan wewenang.
Integritas dipahami sebagai tulisan yang memuat kepentingan atau tujuan dari dikeluarkannya tulisan, sedangkan wewenang dipahami sebagai kompetensi atas dikeluarkannya tulisan yang dianggap dapat mewakili pihak manajemen.
3. Review Sumber Informasi
Praktisi PR harus teliti mengecek kembali naskahnya sebelum di publikasi. Mulai dari apakah gagasan pokok telah dituangkan dalam bahasa yang benar, sampai pengenalan karakater media tempat naskah akan diterbitkan.
Selain itu, dibutuhkan kutipan penjelasan dari tenaga ahli apabila menyangkut isu yang sangat bersifat teknis dan menyangkut nyawa manusia. Seperti : kandungan kimia, alat kesehatan, zat makanan dan lain sebagainya. Pastikan kata – kata istilah yang digunakan sudah dipahami secara jelas dan komprehensif.
4. Dampak yang diharapkan
Selain dampak tulisan kepada publik yang membaca, seorang Publik Relations juga perlu memikirkan dampaknya bagi media. Harus memberikan strategi solusi kreatif, bagaimana pihak media tersebut bisa mendapatkan persepsi positif yang mendalam.
Kemas informasi, pesan dan data mengenai perusahaan/organisasi dalam berbagai bentuk, seperti press kit atau media kit yang berisi factsheet, backgrounders yang pada prinsipnya memuat profil perusahaan, whitepaper, brosur, dan flier.
5. Teknik Tulisan
Teknik penulisan naskah harus sesuai dengan publik sasaran, misalnya pilihan kata, penggunaan tata bahasa, dan sisi yang ingin ditonjolkan dari naskah yang akan ditulis.
Praktisi PR tidak menjual produk, tetapi membangun image produk dengan teknik edukasi konsumen. PR tidak menegaskan perusahaan telah mengeluarkan produk, tapi lebih dari memfokuskan pada manfaat dan keunggulan produk tersebut bagi konsumen.
Wokehhh! Semoga bermanfaat

0 komentar:
Posting Komentar